Daftar Burung Langka Di Papua

Daftar Burung Langka Di Papua

Daftar Burung Langka Di Papua – Indonesia memang Negara yang dikenal sebagai salah satu Negara yang memiliki Fauna dan Flora terbanyak dengan berbagai spesies, hal yang unik dari Tanah Air tercinta kita ini kalau Fauna Burung di Indonesia adalah yang terbanyak di Dunia.

Nah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki Hewan Burung Terindah yaitu berasal dari Papua, di Papua ada banyak sekali jenis burung-burung langka sebut saja seperti burung Cendrawasih. Nah dari pada penasaran lebih lanjut ada burung-burung langka yang berasal dari Papua bisa simak seperti dibawah ini.

Daftar Burung Langka Di Papua

1. Cendrawasih Biru (Paradisaea rudolphi)

Daftar Burung Langka Papua Cendrawasih Biru

Mungkin banyak yang mengenal burung Cendrawasih dari warna bulunya yang kuning dan merah. Namun apakah kamu tahu kalau Burung Cendrawasih ada juga yang warna Biru? Nah Burung Cendrawasih Biru memang sangat langka dan bahkan jarang ditemukan, namun belakangan ini ada yang telah berhasil mengabadikannya ke dalam foto oleh seorang jurnalis.

2. Maleo Waigeo

Maleo Waigeo

Nah mungkin dari kalian yang jarang melihat burung ini di dalam Foto dan Bahkan jarang diketahui keberadaannya, Burung Maleo Waigeo hanya dapat ditemukan dalam hutan-hutan yang memiliki ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut. Berukuran 56 cm memang sekilas burung Maleo Waigeo ini terlihat seperti Ayam Turkey loh.

3. Burung Kasuari

Burung Kasuari

Mungkin banyak nih yang sudah kenal dengan Burung yang berasal dari Papua dan Australia ini yaitu Kasuari, nah Burung Kasuari masuk kedalam kategori burung yang tidak bisa terbang dan hal yang membuat burung ini cukup langka karena banyaknya diburu. Meski begitu banyak nih yang gak tau kalau Burung ini agresif dan bahkan memiliki cakar yang sangat tajam dan bahkan bisa merobek daging dengan mudah.

4. Burung Mambruk Victoria

Burung Mambruk Victoria

Burung Mambruk Victoria sudah sangat terkenal karena memiliki kriteria dari rumbai bulu di bagian kepalanya yang menyerupai mahkota. Burung ini asli berasal dari wilayah utara Papua hingga Papua Nugini dan termasuk juga Pulau Yapen serta Pulau Biak. Nah berasarkan IUCNREDLIST kalau jumlah burung Mambruk Victoria ini hampir terancam punah karena pemburuan oleh manusia yang berlebihan loh.

5. Cenderawasih Raja

Cendrawasih Raja

Salah satu yang jarang ditemui nih guys, burung Cenderawasih Raja, Burung yang satu ini dikenal sangat unik karena memiliki warna seperti Bendera Negara tercinta kita Indonesia yaitu dengan warna Merah Putih untuk jantannya. Burung Endemik Papua ini terkenal langka dan sangat susah ditemui loh.

Fakta Unik Burung Cinta

5 Fakta Unik Burung Cinta Atau Di Kenal Dengan Love Bird

Fakta Unik Burung Cinta Atau Di Kenal Dengan Love Bird – Lovebird atau di dalam bahasa indonesia nya adalah burung cinta. Adalah suatu burung dengan filosofi pasangan atau cinta sejati. Nama tersebut muncul sejak seseorang mengambil foto yang menjadi Viral mereka yang tampak saling memberi makan dan berpelukan.

Oleh sebab itu banyak orang yang memberikan nya nama love terhadap burung tersebut. Namun Masih Ada fakta-fakta unik dan juga menarik yang bisa kita dapat dari jenis burung cinta. Yuk, baca sampai tuntas ulasan di bawah ini.

Fakta Unik Burung Cinta

5 Fakta Unik Burung Cinta / Love Bird

1. Burung Love Bird Berasal Dari Negara Afrika

Lovebird adalah burung asli dari hutan dan sabana di Sahara Afrika serta Madagaskar. Fosil burung lovebird purba telah ditemukan 1,9 juta tahun yang lalu di Afrika Selatan.

2. Ada Lebih Dari Satu Spesies Lovebird Di Dunia

Yaitu 9 spesies yang diklasifikasikan sebagai lovebird https://www.desawisatatukak.com/ berasal dari genus Agapornis. Kebanyakan lovebird memiliki tubuh berbulu hijau dan warna bulu kepala yang berbeda. Namun burung yang paling mirip dengan mereka adalah burung nuri gantung yang berada di Asia.

3. Lovebird Hanya 1 Pasangan Seumur Hidup

Biasanya seekor burung monogami mencapai kematangan seksual ketika mereka berusia sekitar 10 bulan. Perkawinan dimulai dengan pacaran dan dapat berlanjut selama rentang waktu sekitar 15 tahun. Monogami sangat penting untuk stabilitas sosial kawanan dan mendasari banyak perilaku sosial seluruh burung.

4. Burung Yang Peduli Ke Sesama

Apabila ada pasangan yang mati atau terpisah dari kawanannya, rekannya menunjukkan perilaku yang tidak menentu dan terbilang aneh. Banyak orang orang dan pakar yang bilang bahwa perilaku tersebut bentuk dari depresi. Burung yang sering dipelihara sebagai hewan peliharaan ini juga tidak suka hidup sendirian.

5. Cara Makan Lovebird Saling Suap-Suapan

Sering kali, setelah perpisahan yang panjang atau periode waktu yang penuh tekanan, pasangan-pasangan lovebird akan saling memberi makan untuk membangun kembali ikatan mereka. Dimana hal ini sangat romantis dan juga semakin cocok dengan nama mereka.

Jenis Burung Kicau Paling Populer Diikutkan Lomba

Jenis Burung Kicau Paling Populer Diikutkan Lomba

Memelihara burung telah lama dikenal sebagai hobi yang digemari oleh banyak orang. Terlebih bagi masyarakat Indonesia, burung menjadi salah satu hewan yang paling kerap dijadikan sebagai hewan peliharaan tidak cuman kucing dan anjing. Salah satu alasan kuat mengapa burung banyak dipelihara adalah karena sanggup mengeluarkan suara kicauan yang indah dan menenangkan.

Jenis Burung Kicau Paling Populer Diikutkan Lomba dan Dibanderol Hingga Belasan Juta Rupiah

Bahkan, tak jarang ditemui lomba kicauan burung di berbagai kota di semua Indonesia. Hadiah yang diperebutkan pun sanggup menyentuh angka ratusan juta Rupiah. Jadi, tak ayal banyak orang yang rela pelihara burung kicau demi menyabet juara di perlombaan atau hanya untuk hobi semata.

Namun, tahukah Anda bahwa burung kicau yang dipelihara oleh masyarakat Indonesia mempunyai banyak jenisnya? Setiap model burung tersebut tentu mempunyai kelebihannya masing-masing sebagai burung kicau yang dapat diikutkan lomba. Harganya pun sanggup dibanderol hingga 10 jutaan per ekornya.

Harga yang mahal dari model burung kicau tersebut tentu dipengaruhi oleh kepopulerannya dan juga antusiasme dari para pecinta hobi tersebut. Daripada penasaran, review 7 model burung kicau paling populer di Indonesia dan dijual bersama harga menakjubkan tersebut ini.

Burung Kacer

Burung Kacer

Meski Berbadan Mungil, Burung Kacer Bisa Dilepas di Harga 1.5 Jutaan Rupiah

Jenis burung kicau paling populer di Indonesia yang pertama mempunyai nama Burung Kacer. Burung yang terhitung dikenal bersama nama Kucica Kampung ini banyak digemari oleh para pecinta burung dalam negeri.

Hidup tersebar nyaris di semua wilayah Indonesia, Burung Kacer mempunyai beragam spesies yang berbeda. Ada yang diberi nama Kacer Poci, Kacer Jawa, Kacer Sumatra, Kacer Kalimantan, Kacer Madagaskar, Kacer Blorok, Kacer Bali, Kacer Hutan, dan juga Kacer Putih. Habitatnya yang luas terhitung membuat Burung Kacer cukup enteng dijumpai para pecinta burung kicau.

Ciri fisik dari Burung Kacer adalah tubuh yang mungil dan juga bulu bersama warna bervariasi, terkait dari spesiesnya. Namun, untuk sanggup ikuti lomba burung kicau, Burung Kacer perlu mempunyai warna bulu mengilap saja. Pasalnya, tidak cuman kicauan yang merdu, Burung Kacer yang mempunyai penampilan fisik memukau lebih berpotensi untuk memenangkan lomba.

Kualitas dari Burung Kacer terhitung sanggup nampak dari bentuk paruh dan matanya. Burung Kacer yang memiliki kwalitas tinggi umumnya mempunyai bentuk paruh yang besar, lebar dan tebal, dan juga mata yang bulat besar.

Penggemar burung kicau sanggup mempunyai pulang burung model ini bersama harga jadi dari 250 ribu hingga 1.5 juta Rupiah. Jadi, siapkan isi dompet lebih-lebih dahulu sebelum akan memastikan untuk pelihara burung kicau populer ini.

Burung Murai

Burung Murai

Memiliki Ekor yang Eksotis, Burung Murai Memiliki Harga Sampai 3 Juta Rupiah

Selanjutnya adalah Burung Murai sebagai burung kicau yang populer di kalangan komunitas pecinta burung di Indonesia. Presiden Joko Widodo lebih-lebih terhitung digadang-gadang pelihara burung model ini dan pernah masuk di sebuah perlombaan.

Sama halnya bersama model burung kicau lainnya, Burung Murai terhitung mempunyai spesies yang beragam. Beberapa yang paling kerap ditemui adalah Burung Murai Batu Medan, Batu Borneo, Batu Aceh, Batu Nias Trotolan, dan Murai Air.

Ukuran tubuh Burung Murai sanggup dibilang standar, tidak amat besar, tetapi terhitung tidak amat kecil. Namun, yang unik dari burung kicau model ini adalah bentuk ekornya yang memanjang. Tentunya, bentuk ekor yang indah dari Burung Murai terhitung ikut andil merubah harga jualnya.

Melihat dari suasana fisik, suara kicauan, dan juga lomba yang pernah dijuarai, Burung Murai biasa dibanderol bersama harga 250 ribu hingga 3 jutaan Rupiah per ekornya. Jadi, siapkan pernah budget sementara menginginkan menjadikan Burung Murai sebagai peliharaan di rumah.

Burung Jalak Suren

Burung Jalak Suren

Kicauan Indah dan Fisik yang Kuat, Para Penggemar Harus Rela Merogoh Kocek Hingga 1.5 Juta untuk Seekor Burung Jalak Suren

Dikenal mempunyai fisik yang kuat dan kicauan yang merdu, burung kicau model Jalak Suren terhitung menjadi salah satu yang paling populer di kalangan pecinta dalam negeri. Berciri tubuh yang panjang dan ramping, Burung Jalak Suren mempunyai ukuran tubuh cukup besar dibanding model lainnya.

Cengkeraman kaki yang kuat dan juga bentuk mata yang tajam menunjukkan bahwa Burung Jalak Suren mempunyai suasana fisik yang prima. Beberapa spesies yang paling enteng ditemui adalah Jalak Suren Gacor, Bakalan, Jawa Gacor, Jawa Jinak, Jalan Suren Lokal, dan juga Jalak Suren Malaysia.

Tak hanya di Indonesia, Burung Jalak Suren terhitung banyak dijadikan sebagai juara dalam perlombaan di banyak negara tetangga. Karena alasan itu pulalah mengapa burung kicau ini sanggup terjual bersama harga paling rendah 300 ribuan hingga 1.5 juta Rupiah. Tentunya, suasana fisik yang baik dan juga perlombaan yang pernah dimenangkan sanggup membuat Burung Jalak Suren sanggup mempunyai harga yang lebih tinggi.

Burung Lovebird

Burung Lovebird

Disukai oleh Banyak Komunitas Pecinta Burung, Burung Lovebird Mampu Menembus Harga 10 Juta Per Ekornya

Jenis burung kicau yang keempat mempunyai nama yang indah dan amat populer di kalangan pecinta burung, yakni, Lovebird. Tak hanya mempunyai kicauan yang indah, warna bulu dari burung asli Afrika ini terhitung sanggup membuat siapa saja tertarik untuk memilikinya. Diantara banyak spesies Burung Lovebird, spesies Muka Salem, Nyasa, Pipi, dan Fischer adalah lebih dari satu yang paling populer.

Untuk kebutuhan lomba, Burung Lovebird bersama kepala yang besar lebih kerap dipilih karena dipercaya sebagai ciri bahwa burung tersebut mempunyai suasana mental yang bagus. Bentuk pangkal paruh yang lebar dan terhitung tidak tipis terhitung menjadi penanda bahwa burung kicau tersebut sanggup membuat kicauan yang gacor atau nyaring.

Dengan popularitas yang cukup tinggi, Burung Lovebird sanggup dijual di pasaran bersama harga antara 400 ribu hingga 10 juta Rupiah. Bahkan, Burung Lovebird yang acap kali memenangkan lomba sanggup dijual bersama harga tiga kali lipat. Jadi, jangan kaget kalau perlu rela membuat dompet jebol sementara membeli burung kicau model ini.

Burung Cucak Hijau

Burung Cucak Hijau

Warna yang Khas dan Kicauan yang Menawan, Burung Cucak Hijau Bisa Dijual Mencapai 3 Juta Rupiah

Lanjut ke model burung kicau populer lainnya, Burung Cucak Hijau sanggup menjadi pilihan burung kicau yang dapat dipelihara. Sesuai namanya, burung kicau ini mempunyai warna hijau terhadap bulunya. Kecenderungannya untuk hidup berkelompok membuat burung ini terhitung terhadap kategori semi fighter.

Jika dibandingkan bersama burung Cucak model lainnya, Burung Cucak Hijau mempunyai ukuran tubuh yang lebih kecil. Kualitas dari burung kicau model ini terhitung sanggup nampak dari bentuk fisiknya yang proporsional. Artinya, ukuran badan, kepala, leher, hingga kakinya perlu selaras.

Burung Cucak Hijau bersama paruh yang besar dan tidak tipis terhitung banyak dipilih oleh para pecintanya karena dirasa sanggup mengeluarkan kicauan yang lebih berisi. Bagi yang menginginkan mempunyai burung kicau model ini, Anda perlu rela mengambil alih isi tabungan jadi dari 400 ribu hingga 3 juta Rupiah.

Burung Pleci

Burung Pleci

Terlihat Seperti Berkacamata, Pecinta Burung Pleci Perlu Mengeluarkan Isi Dompet Sebanyak 1 Jutaan

Terlihat seolah Mengenakan kacamata, Burung Pleci terhitung cukup banyak dijadikan andalan di perlombaan burung kicau Indonesia. Ciri yang paling enteng diamati dari Burung Pleci adalah warna putih melingkar di kurang lebih matanya. Ukuran tubuh dari burung kicau ini terhitung tidak besar.

Kualitas baik dari Burung Pleci sanggup diamati dari fisiknya yang kuat dan juga mempunyai tatapan mata yang tajam. Untuk yang mencari burung bersama suara gacor, cari Burung Pleci yang paruh atasnya nampak tipis.

Nah, untuk harganya, Burung Pleci biasa dijual bersama harga antara 700 ribu hingga 1 juta Rupiah. Pastinya, mutu fisik dan juga penghargaan yang pernah didapat membuat burung kicau model ini sanggup mempunyai harga jual yang lebih tinggi.

Burung Cucak Rowo

Burung Cucak Rowo

Tak Pernah Gagal Menarik Minat Pecinta Burung bersama Kicauannya, Burung Cucak Rowo Bisa Dijual 9 Jutaan Setiap Ekor

Jenis paling populer yang paling akhir adalah Cucak Rowo. Hampir tiap-tiap masyarakat Indonesia tentu pernah mendengar nama burung kicau ini karena dibuat lagu oleh salah seorang penyanyi Kondang, Didi Kempot.

Banyak pecinta burung yang beranggapan Cucak Rowo mempunyai penampilan fisik yang tidak cukup menarik. Namun, suara kicauannya yang indah sanggup membuat para penikmat suara burung tergiur untuk mempunyai burung kicau model ini.

Untuk harga, tak diragukan ulang Cucak Rowo dibanderol cukup tinggi, terkait dari spesies dan kualitasnya. Sebagai contoh, Cucak Rowo dari Papua biasa di lepaskan di pasaran bersama harga paling rendah 800 ribu Rupiah. Sedangkan untuk yang Gacor, Cucak Rowo dijual paling tidak mahal 5 juta hingga 9 juta Rupiah.

Bahkan, Burung Cucak Rowo mempunyai pengalaman dan telah banyak memenangkan lomba dapat banyak dicari dan sanggup dijual hingga 25 juta Rupiah. Jadi, pastikan kebutuhan rutin telah terpenuhi seluruhnya sebelum akan memastikan untuk membeli burung kicau ini.

Burung Sudah Punah: South Island kōkako

Kōkako Pulau Selatan (Callaeas cinereus) adalah burung hutan yang kemungkinan punah yang endemik di Pulau Selatan Selandia Baru. Tidak seperti kerabat dekatnya di North Island, kōkako memiliki sebagian besar pial berwarna jingga, dengan hanya sebagian kecil berwarna biru di pangkalnya, dan juga dikenal sebagai gagak pial jingga (meskipun bukan corvida). Penampakan terakhir yang diterima pada tahun 2007 adalah yang pertama dianggap asli sejak tahun 1967, meskipun ada beberapa laporan lain yang tidak diautentikasi.

Kōkako pertama kali dijelaskan oleh naturalis Jerman Johann Friedrich Gmelin pada tahun 1788 sebagai Glaucopis cinerea, dari bahasa Latin cinereus (“abu-abu”). Untuk beberapa waktu, burung Pulau Utara dan Pulau Selatan dianggap sebagai subspesies Callaeas cinerea, tetapi sejak 2001 burung Pulau Utara telah secara resmi diakui sebagai C. wilsoni, dan bukti genetik menegaskan perbedaan mereka dalam judi bola resmi dan terpercaya. Meskipun genus Callaeas adalah maskulin, spesies julukan cinerea tidak cocok untuk maskulin, meskipun beberapa penulis berpendapat bahwa itu harus.

Seperti kōkako Pulau Utara, ini adalah burung abu-abu batu tulis dengan kaki panjang dan topeng hitam kecil Reischek menganggap bulunya sedikit lebih ringan daripada spesies Pulau Utara. Pial-pialnya berwarna oranye dengan dasar biru tua; burung muda memiliki pial yang jauh lebih ringan. Tampaknya spesies ini menghabiskan lebih banyak waktu di darat daripada spesies di Pulau Utara, tetapi menjadi penerbang yang lebih baik.

Penjelajah awal Charlie Douglas mendeskripsikan panggilan kōkako South Island: “Nada mereka sangat sedikit, tapi nada mereka yang paling manis dan paling lembut yang pernah saya dengar dihasilkan oleh burung.” Berdasarkan catatan yang ada, telur kōkako South Island lebih besar dari telur mereka.

Pada saat pemukiman Eropa, kōkako Pulau Selatan ditemukan di Pantai Barat dari barat laut Nelson ke Fiordland, serta Pulau Stewart, Semenanjung Banks, dan Catlins. Tulang subfosil menunjukkan bahwa mereka sebelumnya ditemukan di seluruh Pulau Selatan, tetapi pembakaran hutan oleh orang Polinesia menghilangkannya dari hutan dataran rendah timur yang kering.

Predator mamalia yang diperkenalkan dan penebangan hutan oleh para pemukim mengurangi jumlah mereka lebih jauh: pada tahun 1900 burung itu tidak umum di Pulau Selatan dan Pulau Stewart, dan hampir punah pada tahun 1960. Kerentanannya dibandingkan dengan spesies Pulau Utara mungkin karena mereka mencari makan dan bersarang di dekat tanah.

Kōkako Pulau Selatan secara resmi dinyatakan punah oleh Departemen Konservasi pada tahun 2007, seperti yang telah terjadi 40 tahun sejak penampakan terakhir yang dikonfirmasi di Gunung Aspiring pada tahun 1967. Pada November 2013, bagaimanapun, Ornithological Society of New Zealand menerima sebagai asli penampakan yang dilaporkan oleh dua orang di dekat Reefton pada tahun 2007, dan mengubah status Klasifikasi Ancaman Selandia Baru burung dari “punah” menjadi “data kekurangan”. Sebelas penampakan lain dari tahun 1990 hingga 2008 dianggap hanya “mungkin” atau “mungkin”.

Seharusnya bulu kōkako ditemukan pada tahun 1995, tetapi pemeriksaan oleh para ilmuwan di Museum Nasional menunjukkan bahwa itu berasal dari burung hitam. Penampakan yang belum dikonfirmasi dari Pulau Selatan kōkako dan laporan panggilan terus berlanjut, tetapi tidak ada sisa-sisa, bulu, kotoran, video, atau foto terbaru yang dikonfirmasi. Status IUCN Red List untuk spesies ini, pada tahun 2016, Sangat Terancam Punah (Kemungkinan Punah). Penampakan terbaru yang belum dikonfirmasi terjadi pada November 2018, di Heaphy Track di Taman Nasional Kahurangi.

Burung Sudah Punah: New Caledonian Lorikeet

New Caledonian Lorikeet  memiliki panjang 18–19 cm (seukuran tangan besar), 7–8 cm di antaranya adalah ekor ramping dan runcing. Sayapnya ramping dan runcing, berukuran 91 mm di satu-satunya spesimen. Tarsusnya memiliki panjang 16 cm.

Burung betina berwarna hijau secara keseluruhan, dengan mahkota biru ungu tua dan paha kebiruan tua, wajah kekuningan dan bagian bawah, dan daerah dubur merah. Ekornya berwarna hijau di atas dan zaitun kekuningan di bawah, dengan empat bulu lateral dengan tanda basal merah diikuti dengan pita hitam, berujung kuning di bagian bawah. Paruhnya berwarna oranye-merah, iris mungkin oranye tua seperti kaki.

Sedangkan untuk spesies jantan belum tercatat. Berdasarkan spesies yang serupa, mereka kemungkinan besar memiliki lebih banyak warna merah, mungkin termasuk wajah, bagian bawah primer dan sisi pantat; dan kemungkinan sedikit lebih besar. Burung yang belum dewasa akan terlihat seperti betina yang kusam.

Suaranya juga tidak diketahui, tetapi — sekali lagi berdasarkan spesies yang sama — kemungkinan besar adalah pekikan bernada tinggi. Ini akan menjadi tanda spesies yang paling jitu, tetapi hanya untuk pengamat yang akrab dengan vokalisasi burung beo lokal lainnya.

Asal usul spesimen yang masih ada tidak diketahui. Satu ditembak di Mont Ignambi dekat Oubatche pada tahun 1913 (Sarasin & Roux, 1913), tetapi tidak diawetkan. Ada laporan yang belum diverifikasi dari barat Mont Panié dan daerah Mont Ignambi di Provinsi Utara, dan dari jalan La Foa-Canala dan Danau Yaté di Provinsi Selatan (Stokes, 1980; Forshaw & Cooper 1989; Ekstrom et al., 2002) .

Bregulla (1993) mengemukakan hal itu mungkin di daerah sekitar Mont Panié dan Mont Humboldt — sekitar 60 km sebelah tenggara Canala — dan Massif du Kouakoué. Mengingat aksesibilitas yang rendah di dataran tinggi, secara teori, kelompok unggas dapat hidup di salah satu petak yang lebih besar dari hutan yang relatif tidak terganggu, misalnya, di antara jalan antar pantai di sekitar perbatasan provinsi.

New Caledonian Lorikeet

Populasi dunia: <50, tanpa laporan sejak 1976.

Di mana ditemukan: Kaledonia Baru, Melanesia.

Sejarah: Lorikeet Kaledonia Baru diketahui dari dua spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1859 dari daerah yang tidak diketahui dan tahun 1913 di Gunung. Ignambi di Kaledonia Baru (Sarasin 1913, Forshaw 1989). Ada laporan, sebagian besar belum dikonfirmasi, dari tahun 1880-an hingga 1920-an (Layard dan Layard 1882, Stokes 1980), dan 1953 atau 1954 di pegunungan tengah dan pada tahun 1976, di sebelah barat Gunung Panié (Stokes 1980). Pada tahun 1998 pencarian ekstensif tidak menemukan burung, dan tidak ada catatan baru diperoleh selama 500 hari survei burung antara tahun 2002 dan 2007 (J. Theuerkauf, S. Rouys dan V. Chartendrault in litt. 2007). Lebih dari seratus penduduk lokal yang diwawancarai antara 2003 dan 2006 tidak memberikan laporan yang kredibel (J. Theuerkauf, S. Rouys dan V. Chartendrault in litt. 2007).

Ancaman: Hilangnya hutan semi-gugur dataran rendah (Ekstrom et al. 2000, Ekstrom et al. 2002) Kemungkinan penyakit yang ditularkan (seperti malaria unggas) Mamalia introduksi (terutama tikus) (Bregulla 1992, Ekstrom et al. 2000, Ekstrom et al.2002)

Ekologi: Laporan awal menunjukkan bahwa perkici ini hidup di hutan dan kadang-kadang diberi makan di pohon Erythina (Layard dan Layard 1882). Diperkirakan bahwa itu dan Charmosyna berkerabat dekat dengan hutan dataran rendah dari hutan pegunungan, tergantung pada musim (Forshaw 1989).